Oleh: Sabara Nuruddin
- A. Mukaddimah
Berbicara
mengenai mistisisme, maka dalam benak kita akan terbayang sebuah
kekuatan maha dahsyat yang sama sekali bertolak belakang dengan dunia
materi. Mistisisme adalah sebuah dimensi kekuatan yang diluar jangkauan
kacamata saintifik dan melampaui verifikasi rasional-filosofis.
Pencitraan streotip dari mistik telah menstigma pikiran manusia yang
mengagungkan sains, dan sebagian manusia yang mengagungkan
rasio-filosofis mereka. Anggapan bahwa mistisisme adalah suatu kekuatan
yang irrasional dan tidak ilmiah, membuat mistisisme ditempatkan pada
suatu tempat yang jauh dan bahkan dianggap mustahil dan takhayul.
Ditambah lagi pandangan kalangan agama yang lebih berorientasi pada
dimensi eksoteris agama dan menganggap sisi esoterisme agama
(mistisisme) sebagai suatu perwujudan dari khurafat dan sihir yang sama
sekali "lepas" dari agama. Akhirnya secara teologis, terma syirik dan
kafir pun diatributkan pada mereka yang bergelut di dunia mistik.
Akhirnya mistisisme menjadi identik dengan mitos-mitos yang penuh dengan
misteri dan kegelapan.
Kalangan saintis yang mengklaim mistisisme
sebagai fakta yang tidak ilmiah, sebagian filosof yang "menjustice"
mistisisme sebagai realitas yang irrasional, dan kalangan agamawan juga
ikut-ikutan dengan mengatributkan terma syirik dan kafir pada para
mistikus. Sebenarnya anggapan negatif tersebut didasarkan pada pemikiran
yang tak mengerti akan hakekat mistisisme yang sesungguhnya. Paradigma
posirivisme yang menjadi mainstreem utama pemikiran kalangan saintis,
aliran rasionalis-empirisme yang menghinggapi pemikiran para filosof.
Serta kecenderungan kalangan agamawan yang lebih menekankan sisi
eksoterisme (lahir) dari agama dengan menafikan dimensi esoterisme
(batin) yang merupakan inti dari ajaran agama telah membuat mistisisme
semakin dijauhi. Stigmatisasi terhadap mistisisme semakin diperparah
dengan klaim sebagian kalangan sosiolog dan antropolog modern yang
menganggap bahwa mistisisme dengan berbagai macam variannya merupakan
produk zaman kuino (masa lalu) yang bersifat tradisonal dan bertentangan
dengan peradaban masyarakat dunia modern.
- B. Pengertian Mistik
Secara
linguistik antara kata mistik, mitos, dan misteri memiliki keeratan dan
hubungan filologis. Ketiganya berasal dari kata kerja bahasa Yunani
yaitu "musteion" yang berarti menutup mata atau mulut.Oleh karena itu
ketiga kata terkait berakar dalam pengalaman tentang kegelapan dan
kesunyian. Singkatnya mistisisme berkenaan dengan segala hal yang susah
dinalarkan dan terkesan aneh. Secara terminologis mistisisme berhubungan
dengan kata "mysteion" atau "mistes" dalam bahasa Yunani yang berarti
orang yang berusaha mencari rahasia dari kenyataan. Itulah sebabnya
mistisisme identik dengan pencapaian pada "dimensi lain" dari alam dan
diri manusia.
Dalam pandangan Inayat Khan, mistisisme adalah
esensi dan dasar dari seluruh bangunan pengetahuan dan kepercayaan
manusia. Sains, seni, agama, filsafat, dan sastra semuanya berada di
bawah mistisisme. Jika kita runut sejarah ilmu pengetahuan manusia, pada
dasarnya seluruh bangunan ilmu pengetahuan (sains), filsafat, dan agama
lahir dari mistisisme yang melandaskan intuisi sebagai alat
epistemologi. Pengembangan ilmu-ilmu empirik dan telaah
rasional-filosofis terhadap realitas metafisik didasarkan pada
pengalaman spiritual (mistik) para filosof/teosof.
- C. Mistisisme dan Agama
Para
ahli filsafat agama membagi dimensi agama menjadi dua sisi, yaitu
dimensi eksoteris dan dimensi esoteris. Dimensi eksoteris agama
berkenaan dengan hal-hal yang bersifat lahiriyah, seperti ibadah-ibadah
ritual atau syari'at maupun penafsiran literer dari teks suci. Sedangkan
dimensi esoteris agama berkenaan dengan realitas batin dari agama yang
"keberadaannnya" "berada" di balik dimensi eksoteris dari agama. Dalam
istilah sufisme dimensi eksoteris dan esoteris agama disebut dengan qishr (kulit) dan lubb
(inti). Atau dalam istilah lain dimensi eksoteris dari Islam adalah
syari'at dan dimensi esoterisme Islam adalah tarekat dan hakekat yang
menjadi inti dari syar'iat.
Di kalangan penganut agama, termasuk
diantaranya Islam, dua dimensi agama tersebut sering dipertentangkan dan
diletakkan secara dikotomistik. Hasilnya adalah munculnya kaum
skriptualis atau zahiri sebagai kelompok yang lebih menekankan sisi
eksosterisme dan cenderung menafikan sisi esoterisme. Sebaliknya, muncul
pula kalangan asketik atau batini yang hanya mengejar dimensi esoteris
dan melalaikan dimensi eksoteris dari agama. Kalangan zahiri menyebut
kalangan batini dengan sebutan syirik dan ghulaw (berlebihan) sedangkan
kalangan batini menganggap kalangan zahiri mengalami "kekeringan"
spiritual.
Pada dasarnya kedua hal tersebut bukanlah dua hal yang
mesti dipertentangkan atau diposisikan secara binerian, sehingga dengan
mengakui yang satu meniscyakan penafian terhadap yang lainnya. Keduanya
adalah dimensi yang tak terpisahkan dari agama. Eksoterisme adalah
"kulit terluar" yang mesti "ditembus" oleh manusia untuk mencapai
dimensi esoteris yang merupakan "inti' dari agama. Mencapai dimensi
esoterisme hanya bisa dilakukan melalui jalan eksoteris, dan penempuhan
jalan eksoterisme akan menjadi sia-sia jika tak mampu mengantarkan kita
pada dimensi esoteris. Antara dimensi eksoterisme dan esoterisme dalam
agama memiliki hubungan simbiotik yang saling "melekat". Menganggap
keduanya saling berkaitan dan tak terpisahkan merupakan cara pandang
yang memandang agama dalam perspektif yang universal dan holistik.
Mistisisme
sebagai dimensi tersembunyi dari alam semesta dan diri manusia dan
esoterisme sebagai inti terdalam dari agama merupakan dua hal yang sama.
Mistisisme merupakan dimensi misteri yang mesti disingkap dan jalan
yang mesti ditempuh untuk mencapai proses kesempurnaan diri. Banyak
diantara para sufi Islam yang telah menghabiskan waktu hidupnya untuk
berproses menyingkap misteri mistik dan menjalani kehidupan alam
mistikal dengan berbasis kekuatan jiwa (akal dan intuisi) dengan
berpedoman pada ajaran agama. Dengan menyingkap misteri mistik
(esoteris) dari agama maka kita akan tiba pada satu kesimpulan akan
kesatuan agama-agama (wahdah al-adyan) pada wilayah esoteris, kendati berbeda pada ranah eksoteris.
- D. Mistisisme dalam Lanskap Keilmuan Islam
Di
masa klasik kita menemukan tokoh seperti Jalal al-Din al-Rumi, Ibn
al-'Arabi, Farid al-Din al-Athar, Suhrawardi, dan Mulla Shadra, serta
sufi-sufi besar lainnya. Di masa modern, tradisi mistisisme Islam ini
dilanjutkan oleh beberapa tokoh, diantaranya adalah Muhammad Iqbal, Imam
Khomeini, Murtadha Muthahhari, Fritjouf Schoun, Sayyed Husein Nasr, dan
Hazrat Inayat Khan seorang sufi dari India. Dan dalam tradisi keilmuan
Islam, mistisisme dikenal dengan istilah tasawuf atau irfan.
Tasawuf/irfan
atau sufisme mengembangkan seni mentransendensikan jiwa seseorang
menuju kepada kesempurnaan. Dari hal itu sufisme menyumbangkan secara
besar bagi manusia pada suatu pemahaman perkembangan kepribadian dan
pengembangan diri. Pada dasarnya tasawuf berkembang di dalam individu
sebagai suatu proses penemuan kembali yang berkesinambungan hingga ia
mencapai kedirian yang sesungguhnya. Menurut tasawuf, diri yang
sesungguhnya bukanlah lingkungan dan kebudayan di dalam diri kita,
melainkan pada dasarnya ia merupakan produk jagad raya dalam evolusi.
Diri ini disebut juga dengan diri kosmik (cosmic self) atau diri jagad raya (universal self) yang berbeda dengan diri lahiriyah (fenomenal self).
Diri kosmik merupakan realitas citra jagad raya yang mesti disingkap.
Ia terbungkus dalam ketidakkesadaran kita dan ia mempunyai potensialitas
yang tak terbatas.
Tasawuf atau irfan merupakan proses yang
mengantarkan jiwa manusia sebagai organisme yang dinamis untuk bergerak
mencapai tujuannya yang tertinggi. Untuk mencapai tujuan tertinggi
tersebut, jiwa manusia mesti melampaui sistematika yang sudah ditentukan
dalam alam-alam ruhani. Dengan kata lain, perjalanan jiwa dalam tasawuf
atau irfan adalah perjalanan jiwa melintasi alam fenomenal menembus
jenjang-jenjang alam noumenal hingga mencapai realitas alam noumenal
tertinggi sebagai "sumbu" semesta. Tasawuf atau Irfan menawarkan sebuah
paket pelancongan spiritual yang menyenangkan menuju realitas sejati.
Pelancongan spiritaul yang ditempuh dalam jalan tasawuf akan
mengantarkan jiwa manusia pada pengenalan realitas alam mistikal yang
ternyata satu, tidak berbeda sebagaimana yang ada dalam alam eksoteris.
- E. Khatimah
Mistisisme
merupakan proses penyingkapan rahasia-rahasia dari fenomena yang
tampak. Dalam pandangan mistisisme, fenomena dunia material ini hanyalah
merupakan realitas maya dan realitas yang sesungguhnya adalah realitas
noumenal yang eksis di balik dunia fenomenal. Jika aspek lahiriyah atau
fenomenal dari alam dan manusia beraneka ragam, dimensi noumenal
tersebut merupakan realitas universal yang kompleks dan mencakup seluruh
dimensi alam materi. Dalam pandangan Hazrat Inayat Khan, mistisisme
adalah cara pandang pada kehidupan Hal-hal yang tampaknya nyata bagi
orang awwam, sesungguhnya tidak nyata bagi para mistikus. Dan hal-hal
yang tampak tidak nyata bagi kalangan awwam sesungguhnya nyata bagi ahli
mistik.
Dengan kata lain, alam fenomenal adalah sisi eksoteris
dari alam ini, sedangkan alam noumenal merupakan sisi esoteris dari alam
ini. Mistisisme merupakan proses menembus dunia fenomenal menuju
realitas alam noumenal yang begitu agung dan sakral. Dimensi esoteris
dan eksoteris dari alam semesta dan diri manusia adalah dua hal yang
saling berkaitan dan tidak dapat dipisah-pisahkan dan dalam pemikiran
mistisisme Islam, berusaha mempertemukan keduanya.
*(Catatan Pengantar Mata Kuliah Filsafat Mistik, Prodi Filsafat Agama, Fak. Ushuluddin, UIN Alauddin Makassar)
0 komentar:
Posting Komentar