RSS FEED

Kebangkitan Islam dari Kacamata Dr. Sabara (Wawancara IRIB dengan Dr. Sabara Nuruddin)



Sementara bila di lihat dari arahnya, saya pribadi, arah kebangkitan Islam di Indonesia tidak mesti membentuk negara atau daulat Islam. Karena bisa ini menjadi masalah baru. Daulat Islam secara formal akan menjadi masalah baru bagi Indonesia. Jadi, kebangkitan Islam di Indonesia buat saya mestinya memberikan semangat agar dalam percaturan Islam di dunia Internasional punya pengaruh dan diperhitungkan dunia.

Kebangkitan rakyat di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara dewasa ini telah berhasil menumbangkan sejumlah rezim depotik semacam Ben Ali di Tunisia, Mubarak di Mesir dan Gaddafi di Libya. Kini, bola salju perlawanan rakyat itu terus menggelinding kencang menggoyang negara-negara monarki Arab.
Baca selengkapnya »

Seri Kajian Filsafat Mazhab Frankfurt (2)



D. Teori Kritis Mazhab frankfurt 

1.      Kritik Ideologi
Teori kritis sebagai kritik ideologi bertitik tolak dari pemikiran Marx tentang ideologi. Marx memahami ideologi sebagai sistem kepercayaan, presuposisi, atau sentimen yang terkait dengan persepsi sesat tentang realitas. Marx mengajukan teorinya sebagai sarana untuk membongkar kebobrokan ideologi kapitalisme dibalik klaim rasionalitas. Spirit kritik ideologi oleh Marx ini diwarisi oleh para pemikir mazhab Frankfurt yang klimaksnya pada pemikiran Jurgen Habermas. Tapi sekalipun terinspirasi dari Marx, bukan berarti Habermas tidak mengkritik Marx. Habermas mengatakan bahwa Marxisme telah gagal sejak Marx mendehumanisasi teorinya menjadi sebuah sains. Bahkan Marx akhirnya terjebak pada positivisme yang reduksionis. Bahkan menurut Louis Althusser dalam pemikiran Marx telah terjadi epistemological break antara pemikiran Marx muda yang humanistik dan Marx tua yang deterministik-saintifik. Bahkan Erich Fromm yang juga salah seorang eksponen mazhab Frankfurt mengemukakan tiga kesalahan Marx yang paling fatal. Yaitu, Marx mengesampingkan faktor moral dalm diri manusia, Marx salah menilai tentang kemungkinan-kemungkinan perwujudan sosialisme, dan penegasan Marx bahwa sosialisasi alar produksi tidak hanya perlu melainkan sudah cukup untuk perubahan masyarakat dari kapitalisme ke sosialisme.
Baca selengkapnya »

Kesadaran, Kebebasan dan Sartre


Oleh: Muhajir 

Tak semua orang bisa menjadi filsuf. Gelar filsuf sama sekali tak didapatkan melalui jenjang akademis. Ia juga tak digenggam dari seberapa banyak anda membaca buku-buku filsafat. Namun gelar filsuf hanya mungkin bila kritis telah menjadi cara hidup. itulah mengapa tak berlebihan kiranya bila Jean Paul Sartre ditasdiq sebagai seorang filsuf.  
Di usia 12 tahun Sartre telah melepaskan keterikatannya pada Tuhan dengan sebuah pengakuan sadar “tak percaya pada Tuhan”. Dengan kritis sebagai carta hidup, ia pun gemar turut andil dalam kegiatan demonstrasi, menuntut praktek ketidak adilan yang kerap terjadi di masanya. Ketidak adilan yang baginya kerap kali dirasakan oleh kaum buruh. Maka kegiatan demonstrasinya pun selalu pada membela proletariat. Sebab seorang sartre adalah seorang yang akrab dengan sosialisme dan negara-negara komunis. Inilah mungkin menjadi alasan yang tepat mengapa sartre menolak penghargaan dari Nobel. Sebab, pikirnya, Nobel adalah lembaga kaum borjuis yang selama ini kerap dikritisinya.
Baca selengkapnya »

Seri Kajian Filsafat Mazhab Frankfurt (1)

Dr. Sabara Nuruddin S.Hi, M.Fil.I
 
A. Mukaddimah

Salah satu perubahan terbesar yang ditimbulkan oleh perang dunia pertama adalah bergesernya gravitasi sosialis (Marxis) ke arah Eropa Timur khususnya Rusia (Uni Sovyet). Ide-ide Marxisme yang kritis tiba-tiba terabsolutisasi menjadi sebuah ideologi maenstreem dan menjelma dalam bentuk suatu negara besar yang bernama Uni Sovyet. Fenomena ini memantik keresahan  bagi kalangan Marxian Jerman yang tetap berusaha memelihara spirit kritis dari pemikiran Marx. Marx dengan tegas mengatakan bahwa ideologi adalah bentuk kesadaran palsu yang disebabkan pemutarbalikan informasi tentang realitas sosial yang dilakukan oleh kalangan borjuasi. Namun, oleh Lenin dan Stalin ide-ide kritis Marxis pun dipeleintir menjadi ideologi yang berujung pada despotisme dalam bentuk sebuah negara.
Baca selengkapnya »

Tentang LDSI Al-Muntazhar

LDSI Almuntazhar adalah organisasi dakwah dan perkaderan yang berkecimpung dalam pengkajian seputar islam dan filsafat. LDSI Al-Muntazhar didirikan oleh beberapa pemuda yang memiliki etos intelektual dan perjuangan islam yang sangat besar. organisasi ini kemudian dirintis pada bulan Mei 2002, dan diresmikan pendiriannya pada hari Ahad tanggal 18 Desember 2003 M yang bertepatan dengan tanggal 5 Zulqaedah 1424 H. 

  Tujuan: Terbinanya insan yang bertakwa dan revolusioner yang turut bertanggung jawab atas terwujudnya tatanan masyarakat yang diridhai Allah SWT (Baldatun tayyibatun wa Rabbun Ghafur) 

 Motto: Bangkit menjemput revolusi “TITIK”

Pluralisme dalam Alquran: Pluralitas Manusia dalam Kesatuan Nilai Universal Kemanusiaan*

Oleh : Sabara Nuruddin  
Peneliti Bidang Kehidupan Keagamaan Balitbang Agama Makassar


 Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikanNya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberianNya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan, hanya kepada Allah kembali kamu semuanya, lalu diberitahu kepadamua apa yang kamu perselisihkan itu (al-Maidah (5):48).

Tauhid merupakan doktrin dasar yang paling fundamen dalam ajaran  Islam. Seorang muslim, diwajibkan untuk menginternalisasi Tauhid sebagai paradigma (pandangan dunia) dalam mengarungi kehidupan. Selama lebih separuh masa dakwah Rasulullah saw (+ 13 tahun) memfokuskan perjuangannya pada internalisasi Tauhid di masyarakat Arab (Quraisy). Tauhid, bukan sekedar pengakuan atau persaksian bahwa tiada Ilah selain Allah, tapi pemaknaan terhadap Tauhid melampaui dari sekedar pengakuan atas eksistensinya yang tunggal. Jika kita tarik pemaknaan Tauhid dalam ranah realitas ciptaan (makhluk), maka Tauhid berarti adalah pengakuan akan pluralitas atas selain Dia (makhlukNya). Hanya Dia yang tunggal, dan selain Dia adalah plural. Pluralitas adalah bagian dari kehendak Allah, dan Allah menciptakan berbagai variabelnya agar pluralitas tidak mengalami benturan. Oleh karena itu, Tauhid murni adalah meyakini bahwa keesaan hanya milik Allah dan pluralisme adalah prinsip dasar masyarakat.
Baca selengkapnya »

Mistisisme: Sebuah Pengantar*


Oleh: Sabara Nuruddin
  1. A.    Mukaddimah
Berbicara mengenai mistisisme, maka dalam benak kita akan terbayang sebuah kekuatan maha dahsyat yang sama sekali bertolak belakang dengan dunia materi. Mistisisme adalah sebuah dimensi kekuatan yang diluar jangkauan kacamata saintifik dan melampaui  verifikasi rasional-filosofis. Pencitraan streotip dari mistik telah menstigma pikiran manusia yang mengagungkan sains, dan sebagian manusia yang mengagungkan rasio-filosofis mereka. Anggapan bahwa mistisisme adalah suatu kekuatan yang irrasional dan tidak ilmiah, membuat mistisisme ditempatkan pada suatu tempat yang jauh dan bahkan dianggap mustahil dan takhayul. Ditambah lagi pandangan kalangan agama yang lebih berorientasi pada dimensi eksoteris agama dan menganggap sisi esoterisme agama (mistisisme) sebagai suatu perwujudan dari khurafat dan sihir yang sama sekali "lepas" dari agama. Akhirnya secara teologis, terma syirik dan kafir pun diatributkan pada mereka yang bergelut di dunia mistik. Akhirnya mistisisme menjadi identik dengan mitos-mitos yang penuh dengan misteri dan kegelapan.
Baca selengkapnya »

FEMINISME RADIKAL dalam ISLAM ?


Feminisme atau kesetaraan gender, pertama kali di kenalkan di dunia barat, tepatnya di inggris dan
amerika. Feminisme lahir karena kaum wanita di inggris dan amerika merasa di  di kesampingkan dalam hal pemungutan atau hak suara, tetapi pada tahun 1920-an kaum perempuan berhasil memperoleh hak suaranya.  Hal inilah yang kemudian mendasari lahirnya feminisme baik dari segi politik, budaya, pendidikan, tatanan pekerjaan, bahkan sampai kepada agama.

Salah satu bentuk feminism yang paling di kecam oleh muslim seluruh dunia adalah feminisme radikal, ideologi ini memusatkan perhatiaannya pada objektivitas dalam seksualitas, dimana kaum wanita selalu merasa di tindas oleh kaum lelaki dalam hal seksualitas, “hal ini” yang paling berharga dari nya, namun juga yang paling terenggut darinya. Lelaki selalu menjadi pengontrol sekaligus penguasa dalam hal seksualitas, wanita di jadikan objek pemuas, umpan, dan bentuk kepasrahan nafsu laki-laki.
Baca selengkapnya »
Return top
Imam Mahdi